Biografi Sunan Gunung Jati, Silsilah, Dakwah, dan Ajaran-ajaran Beliau

SUNAN GUNUNG JATI – Selamat datang di website Informazone, kali ini kami akan menyajikan artikel tentang biografi singkat Sunan Gunung Jati. Pada artikel yang lalu kaim sudah pernah menulis informasi mengenai sejarah semua Wali Songo atau 9 Wali yang memiliki jasa mendakwahkan agama Islam ke seluruh penjuru Indonesia.

Pada artikel ini secara spesial kami ingin mengulas secara lengkap biografi salah satu wali yang tergabung dalam Wali Songo. Seorang Wali Allah yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa bagian barat tepatnya di Cirebon.

Profil Singkat Sunan Gunung Jati

profil sunan gunung jati
youtube.com

Sunan gunung jati atau Raden Syarif Hidayatullah merupakan salah satu dari ulama besar walisongo yang menyebarkan Islam di pulau jawa. Raden Syarif Hidayatullah dilahirkan pada 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alim (seorang penguasa mesir) dan Nyai Rara Santang, Putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran (yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Awal Mula Datangnya Sunan Gunung Jati Ke Indonesia

nusantara
voa-islam.com

Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir tapi anak yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah Jawa dan berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di negeri Mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam besar didaratan timur tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya yaitu Jawa ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.

Pada awal kedatangannya, Raden Syarif Hidayatullah sering dianggap juga sebagai Fatahillah. Padahal kedua orang ini berbeda. Sunan gunung jati merupakan cucu dari raja Padjajaran keturunan mesir dan mengemban Islam di daerah Jawa Barat. Sedangkan Fatahillah merupakan pemuda Pasai yang dikirimkan Sultan Trenggana untuk membantu sunan gunung jati dalam melawan portugis. Hal ini di buktikan dengan makam Tubagaus pasai atau raden Fatahillah di dekat makam sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1475 Sunan Gunung Jati  bersama dengan ibunya Syarifah Muda’im datang ke Jawa Barat. Namun sebelum ke Jawa Barat beliau mampir terlebih dahulu ke Gujarat dan pasai untuk menambah pengalaman. Namun setelah itu Syarifah Muda’im datang kepada gurunya yang telah wafat Syekh Datuk Kahfi dan menetap di Gunung Jati supaya dekat dengan makam gurunya.

Baca Juga :  25 Fakta-fakta Tentang Jupiter, Planet Terbesar dalam Tata Surya

Setelah itu Sunan Gunung Jati dan ibunya meneruskan usaha Syekh Datuk Kahfi. Hal ini menjadikan Raden Syarif Hidayatullah di juluki dengan Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1497 Sunan Gunung Jati di serahi neeri Carubana untuk dipimpinnya, karena pageran Cakrabuana sudah lanjut Usia. Disaat itu pula Sunan Gunung Jati menikah dengan anak dari Nyi Pakungwati.

Perjuangan Sunan Dalam Menyebarkan Islam Di Indonesia

wali songo sunan gunung jati
informazone.com

Sejak kecil Syarif sudah menonjol dalam pengetahuan agama, kecerdasan dan luasnya wawasan. Dan dia juga memiliki akhlak yang baik. Dia belajar ilmu agama di Makkah, Baghdad, Gujarat dan Palestina. Selain itu dia juga belajar pada Sunan Ample di Pesantren Ample Denta dan di Pesantren Amparanjati berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi atau yang lebih dikenal dengan sebuta Syaikh Nurjati.

Sebenarnya sebelum memutuskan menyiarkan agama Islam di pulau Jawa, Syaikh Syarif Hidayatullah ini telah ditunjuk sebagai penerus ayahnya di Mesir. Namun jiwa pembelajar dan keinginan kuat untuk menyampaikan ajaran agama sejauh yang bisa dijangkau, membuatnya menyerahkan jabatan itu kepada adiknya—Syarif Nurullah. Sedangkan dirinya sendiri memulai perjalanan untuk menuju pulau Jawa sekaligus tempat kelahiran ibundanya.

Maka di tahun 1470 Syarif Hidayatullah memulai perjalanannya. Dalam perjuangannya ini tantangan terbesar yang harus Sunan Gunung Jati tanggung adalah kenyataan kalau eyangnya sendiri belum memeluk Islam. Sebagaimana diketahui, munculnya Islam belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.

Khususnya bagi orang-orang pedalaman dan kerajaan-kerjaan yang masih memegang teguh budaya Hindu-Budha. Oleh karena itu saat akan memulai dakwahnya dengan kerendahan hati, Sunan Gunung Jati menemui eyangnya yaitu Prabu Siliwangi untuk meminta izin.

“Kau boleh menyebarkan ajaran baru di sini, tetapi jangan dengan paksaan. Jangan sampai karena beda bahasa dalam sesembahan, darah tumpah ke bumi. Bumi dan langit tak akan merestui kepada siapa saja yang datang untuk saling menghinakan”.

Pesan itulah yang Sunan Gunung Jati pegang dengan erat. Dalam menyebarkan agama Islam, dia memilih metode lemah lembut dan kekeluargaan. Kearifan budi dan akhlak itulah yang pada akhirnya membuat banyak masyarakat mulai mengikuti ajaran Sunan Gunung Jati. Apalagi sejak Sunan Gunung Jati diamanahi untuk melanjutkan kepemimpinan di Pesantren Amparanjati, setelah Syaikh Nurjati meninggal.

Baca Juga :  12 Akibat Rotasi Bumi yang Berdampak Pada Kehidupan di Dunia

Hanya saja berjalannya hari, Sunan Gunung Jati menyadari dalam memperjuangkan Islam, ternyata tidak hanya bisa memakai cara lemah lembut. Karena banyak orang-orang dari kerajaan Hindu-Budha yang mulai merasa terganggung dengan Islam yang mulai berkembang pesat.

Baik itu dari pihak Majapahit juga kerajan di Pajajaran. Apalagi sejak Sunan Gunung Jati membangun hubungan baik dengan kesultanan Demak. Mereka berusaha menjatuhkan pengaruh Islam dengan berbagai cara.

Ajaran Akhlak Sunan Gunung Jati

liriklagu-anak.blogspot.com

1. Yang berkaitan dengan ketaqwaan dan keyakinan adalah

  • Titip fakir miskin
  • Jika shalat harus khusu’ dan tawadhu seperti anak panah yang menancap kuat
  • Jika puasa harus kuat seperti tali gondewa
  • Ibadah itu harus terus menerus, harus istiqomah
  • Hati harus bersyukur kepada Allah
  • Banyak-banyaklah bertobat

2. Yang berkaitan dengan kedisiplinan

  • Jangan mengingkari janji
  • Yang salah tidak usah ditolong
  • Jangan belajar untuk kepentingan yang tidak benar atau disalahgunakan

3. Yang berkaitan dengan kearifan dan kebijakan adalah

  • Jauhi sifat yang tidak baik
  • Miliki sifat yang baik
  • Jangan serakah atau berangasan dalam hidup
  • Jauhi pertengkaran
  • Jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya
  • Jangan suka berbohong
  • Kabulkan keinginan orang
  • Jangan makan sebelum lapar
  • Jangan minum sebelum haus
  • Jangan tidur sebelum ngantuk
  • Jika kaya harus dermawan
  • Jangan suka menghina orang
  • Harus dapat menahan hawa nafsu
  • Harus mawas diri
  • Tampilkan perilaku yang baik
  • Carilah rejeki yang halal
  • Jangan banyak mengharap pamrih
  • Jika bersedih jangan diperlihatkan agar cepat hilang
  • Miliki sifat terpuji
  • Jangan suka menyakiti hati orang
  • Jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya
  • Jangan mengagungkan diri sendiri
  • Jangan sombong dan takabur
  • Jangan dendam

4. Yang berkaitan dengan kesopanan dan tatakrama

  • Harus hormat kepada orang tua
  • Harus hormat pada leluhur
  • Hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka
  • Hendaklah menyanyangi sesama manusia
  • Hormati tamu

5. Yang berkaitan dengan kehidupan sosial

  • Jangan berangkat haji ke Mekkah, jika belum mampu secara ekonomis dan kesehatan
  • Jangan mendaki gunung tinggi atau menyelam ke dalam kawah, jika tidak mempunyai persiapan atau keterampilan
  • Jangan menjadi imam dan berkhotbah di Mesjid Agung, jika belum dewasa dan mempunyai ilmu keIslaman yang cukup
  • Jangan berdagang, jika hanya dijadikan tempat bergerombol orang
  • Jangan berlayar ke lautan, jika tidak mempunyai persiapan yang matang.

Tinggalkan komentar