6 Fakta Mengenai Masa Depan Bumi yang Perlu Anda Ketahui

Bagaimanakah masa depan bumi kita? Saat ini telah begitu banyak terjadi kerusakan alam di berbagai tempat di dunia. Sebagian manusia mungkin tidak sadar atau dengan sengaja berbuat kerusakan. Udara yang berpolusi, air yang tercemar dan tanah yang terkontaminasi menandakan bahwa begitu parahnya keadaan alam di bumi kita ini.

Banjir Akibat Mencairnya Es di Kutub (oceanleadership.org)

Padahal manusia sangat tergantung terhadap bumi, karena bumi menyediakan segala sesuatu agar manusia bisa bertahan hidup. Oleh karena itu semua manusia akan musnah jika nantinya bumi ini hancur. Memang begitulah kenyataanya, mungkin menurut kalian hal ini terdengar menakutkan dan berlebihan. Jika Anda merasa demikian, sebaiknya dengan penjelasan di atas Anda tersadarkan tentang betapa mengkhawatirkannya keadaan planet bumi.

Lantas bagaimana dengan masa depan bumi? hal-hal apa saja yang mungkin terjadi. Para ilmuwan dari seluruha dunia telah banyak melakukan penelitian, untuk memperkirakan keadaan masa depan bumi. Hal ini dapat diprediksi dengan mengamati berbagai perubahan-perubahan alam yang terjadi di berbagai tempat. Misalnya di kutub utara, dimana banyak gunung es yang mulai mencair menyebabkan permukaan air laut naik.

1. Punahnya Berbagai Spesies Binatang

Badak Hitam dari Afrika Barat yang Punah (huffingtonpost.com)

Manusia adalah makhluk yang paling berpengaruh di muka bumi. Banyaknya populasi manusia telah mendominasi berbagai ekosistem di permukaan bumi. Hal ini membawa dampak secara luas terhadap terjadinya kepunahan masal berbagai spesies binatang di zaman ini. Hal itu dikenal dengan nama kepunahan Holosen.

Kepunahan dalam skala besar yang mulai terjadi sejak tahun 1950an disebabkan ulah tangan manusia disebut krisis biotik. Dimana diperkirakan sebanyak 10% dari total seluruh spesies telah punah pada tahun 2007. Jika dibiarkan seperti itu, maka 100 tahun ke depan sekitar 30% spesies akan terancam punah.

Peristiwa kepunahan Holosen adalah hasil dari perusakan habitat, menyebar luasnya invasi manusia terhadap habitat tempat hidup binatang, pemburuan, dan perubahan iklim. Sekarang ini, seluruh kegiatan manusia telah memberikan dampak besar terhadap perubahan lingkungan pada sepertiga luas bumi.

Konsekuensi dari krisis biotik secara berkelanjutan telah diprediksi akan berlangsung paling sedikit lima juta tahun ke depan. Hal itu bisa mengakibatkan penurunan keanekaragaman hayati dan homogenisasi biota, disertai dengan semakin banyaknya spesies yang merugikan, seperti hama dan gulma.

2. Meningkatnya Kandungan Gas Karbondioksida

Mencairnya Es di Antartika (betterworldinternational.org)

Tercatat bahwa kandungan gas karbondioksida mengalami peningkatan sebesar 30% semenjak dimulainya revolusi industri. Hal tersebut akan mengakibatkan suhu di permukaan bumi mengalami peningkatan dan menyebabkan sedikinya uap air yang mampu bertahan di udara untuk membentuk awan. Berarti akan semakin jarang terjadi hujan dan secara langsung mengakibatkan menurunnya produksi hasil pertanian.

Meningkatnya temperatur di permukaan bumi juga akan menyebabkan tingkat pelapukan mineral silikat meningkat karena laju proses kimia dipengaruhi juga oleh suhu lingkungan. Namun di lain sisi hal ini juga akan menurunkan kandungan karbondioksida di atmosfer, karena proses pelapukan mampu mengubah CO2 menjadi karbonat padat.

3. Perubahan Iklim

Kekeringan Akibat Perubahan Iklim (businessinsider.com)

Perubahan iklim adalah kejadian berubahnya pola cuaca dan iklim pada sebuah wilayah atau seluruh wilayah di muka bumi dalam jangka panjang. Perubahan ini dapat terjadi dalam waktu puluhan bahkan jutaan tahun yang mengakibatkan berubahnya cuaca normal dengan semakin sedikit atau semakin banyaknya terjadi cuaca ekstrim di beberapa daerah.

Perubahan iklim ini terjadi karena semakin tingginya kadar karbondioksida di udara dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi semakin panas. Dimana hal tersebut biasa dikenal dengan nama pemanasan global atau efek rumah kaca.

4. Timbul Berbagai Penyakit Baru yang Mematikan

Rekayasa Genetika Menimbulkan Penyakit Baru (longlonglife.org)

Terdapat beberapa resiko yang mungkin terjadi dan memiliki dampak global pada planet bumi. Dari sudut pandang manusia, hal ini dapat dibagi lagi menjadi resiko yang berdampak terhadap kemampuan unutk bertahan hidup dan resiko berantai.

Resiko yang berdampak langsung kepada manusia seperti perubahan iklim, peyalahgunaan nanoteknologi, bencana nuklir, perang memanfaatkan kecanggiahn teknologi, penyakit akibat rekayas genetikan dan bencana yang timbul akibat uji coba fisika atau senjata.

Semua peristiwa tersebut menimbulkan ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Termasuk juga munculnya penyakit yang mematikan dampak dari rekayasa genetika, efek rumah kaca, dan penipisan sumber daya alam. Mungkin juga dampak dari astroid atau komet dan penjelajahan luar angkasa yang membawa bakteri penyakit baru, namun itu merupakan kemungkinan yang mustahil untuk dibuktikan.

5. Semakin Miringnya Sumbu Rotasi Bumi

Kemiringan Normal Sumbu Rotasi Bumi (wikimedia.org)

Percepatan waktu pasang surut Bulan akan memperlambat laju rotasi bumi dan meningkatkan jarak Bumi dan Bulan. Efek-antara gesekan inti dan mantel bumi serta antara atmosfer dan permukaan bumi bisa menghilangkan energi rotasi bumi.

Efek gabungan ini akan membuat hari semakin panjang yaitu bertambah 1,5 jam selama 250 juta tahun berikutnya, dan bisa mebuat sumbu rotasi bumi miring setengah derajat. Hal tersebut mengakibatkan jarak bumi ke bulan menagalami peningkatan sebesar 1,5 kali panjang jari-jari Bumi dalam waktu yang sama.

Berdasarkan pemodelan komputer, kehadiran bulan muncul untuk menstabilkan kemiringan bumi, yang dapat membantu planet ini untuk terhindar dari pola perubahan iklim yang drastis. Stabilitas ini dicapai karena Bulan meningkatkan tingkat presesi putaran bumi pada sumbunya yaitu, gerak presesi ekliptika.

Namun, karena sumbu semi-mayor dari orbit Bulan terus meningkat, efek stabilisasi ini juga akan terus berkurang. Pada titik tertentu, hal tersebut mungkin akan menimbulkan berbagai kekacauan terhadap sudut kemiringan dari Bumi. Kemungkinan kemiringan sumbu rotasi berubah mencapai batas sudut maksimal sebesar 90 derajat akan terjadi antara 1,5 dan 4,5 miliar tahun dari sekarang.

Semakin iring sumbu rotasi bumi mungkin akan menghasilkan perubahan iklim yang drastis dan dapat merusak kelayakhunian planet bumi. Ketika kemiringan aksial Bumi melebihi 54 °, nilai radiasi matahari tahunan di khatulistiwa akan lebih kecil dari kutub. Kemungkinan planet ini bisa tetap pada kemiringan 60° sampai 90° dalam jangka waktu kurang lebih selama 10 juta tahun.

6. Pergeseran Lapisan Kerak Bumi

Lempengan Tektonik Bumi (reference.com)

Peristiwa berbasis tektonik akan terus terjadi, begitu juga di masa depan dan permukaan bumi akan terus dibentuk kembali oleh pergesearan lempeng tektonik, ekstrusi, dan erosi. Gunung Vesuvius dimungkinkan akan meletus sekitar 40 kali selama 1.000 tahun ke depan.

Selama periode yang sama, sekitar lima sampai tujuh gempa bumi berkekuatan 8 atau lebih harus terjadi di sepanjang Patahan San Andreas, sementara sekitar 50 berkekuatan 9 peristiwa dapat diharapkan di seluruh dunia. Mauna Loa harus mengalami sekitar 200 letusan selama 1.000 tahun ke depan, dan Old Faithful Geyser mungkin akan berhenti beroperasi. Niagara Falls akan terus bergeser, mencapai Buffalo dalam waktu 30,000-50,000 tahun.

Dalam 10.000 tahun, pembentukan kembali lempengan pasca-glasial Laut Baltik akan mengurangi kedalaman sekitar 90 m (300 ft). Teluk Hudson akan menurun secara mendalam oleh 100 m selama periode yang sama. Setelah 100.000 tahun, pulau Hawaii akan telah bergeser sekitar 9 km (5,6 mil) ke arah barat laut.

Leave a Reply