Keutamaan dan Niat Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Beserta Dalilnya

Puasa Arafah adalah puasa pada Hari Arafah, yaitu hari kesembilan dari bulan Dzulhijjah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat muslim yang tidak pergi haji, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Rasulullah S.A.W. tentang puasa Arafah:

Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka dia menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162 dalam hadits yang panjang)

Puasa Arafah juga dikenal dengan berpuasa belum hari raya Idul Adha. Dalam setiap umat muslim menjalankan kewajiban puasa Arafah juga memiliki kelebihan dan keistimewaan serta tata caranya. Berikut ulasannya.

Bacaan Niat Puasa Arafah Arab dan Artinya

cdn.popbela.com

Puasa Arafah bermula ketika waktu 8 Dzulhijah dimana waktu untuk memperingati hal tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS saat Allah SWT memintanya untuk menyembelih anaknya yaitu Ismail. Allah SWT memperintahkan Nabi Ibrahim AS seperti yang dia riwayatkan. Dalam 8 Dzulhijah, nabi Ibrahim bisa melakukan ibadah dengan banyak memotong hewan kurban.

Setiap masa haji dalam setahun, Nabi Ibrahim AS secara rutin melakukan penyembelihan 1000 ekor domba, 100 ekor sapi, dan 10 ekor unta. Hal ini merupakan sesuatu yang wajat bagi Nabi Ibrahim AS sebelum dia mendapat mimpi untuk menyembelih anaknya sendiri yang telah dinanti – nantikan dalam waktu yang lama oleh Allah SWT. Dan mimpi itu tidak datang sekali saja.

Nabi Ibrahim sempat menghiraukan mimpi ini saat pertama kali datang, dan menyangka ini adalah perbuatan setan. Lalu yang kedua kalinya, Nabi Ibrahim AS langsung berunding dengan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih kecil. Dan kegiatan berunding itu diperingati dengan bentuk puasa Tarwiyah yang artinya berpikir.

Hasil berunding adalah setuju untuk melakukan sembelih pada anaknya, Ismail. Dan di mimpi yang ketiga, Nabi Ibrahim meyakini bahwa ini adalah perintah dari Allah Swt yang kemudian diperingati umat muslim sebagai Puasa Arafah yang berarti mengenali. Saat Nabi Ismail siap disembelih bersamaan dengan waktu kurban, posisinya diganti dengan seekor domba yang diberikan oleh Allah SWT.

Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Djulhijjah dimana sehari sebelumnya umat muslim dianjurkan untuk berpuasa. Puasa Arafah ini dilakukan oleh umat muslim yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Karena  termasuk sebuah ibadah, menjadi sebuah keharusan untuk melafadzkan niat sebelum melakukannya. Berikut ini bacaannya :

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

“Nawaitu Shouma ‘arafah sunnata lillahi ta’ala”

Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’ala”

Niat Puasa Arafah di Pagi Hari

Pada puasa Arafah ini umat muslim jika bisa membaca niatnya pada pagi hari jika tidak sempat membacanya pada malam hari. Sama seperti niatnya diatas, hanya beda waktu dalam mengucapkannya saja. Tapi dengan syarat belum menyantap makanan, minuman atau hal – hal yang dapat membatalkan puasa. Dalam hadist juga disebutkan :

“Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).”

Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya.”

Dari hadist diatas, dapat disimpulkan bahwa. Oleh mambaca niat pada pagi hari karena ini meruapkan puasa sunnah, berbeda halnya dengan puasa Ramadhan yang memang diwajibkan dan membaca niatnya pada malam hari. Selain itu juga belum menyantap makanan, minuman dan hal – hal yang dapat membatakan puasa.

Banyak yang berpendapat ada batasan waktu untuk pengucapan niatnya di pagi hari. Ada yang berpendapat setelah pertengahan siang, dan pada waktu sebelum dan sesudah matahari berbegerak ke arah barat. Pada puasa Arafah juga umat muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah, shalat sunnah, zikir, takbir dan membaca Al–Qur’an.

Umat muslim yang sedang melakukan puasa arafah juga boleh membatalkan puasanya jika memang ada maslahat (kegiatan yang mendatangkan kebaikan ) atau kebutuhan lain. Selain itu juga boleh menampakkan bentuk amalan yang sebenarnya bisa disembunyikan. Dan juga bisa membatalkan amalan sunnah karena adanya maslahat atau masalah dalam keadaan tubuh (hajat).

Tata Cara Puasa Arafah

Berikut ini tata cara dalam menunaikan Puasa Arafah

  • Niat

Sebaiknya membaca niat puasa Arafah dilakukan pada malam hari, bukan pagi hari sebelum terbitnya fajar. Namun apabila tidak sempat boleh membaca niatnya pada gi hari mengingat ini adalah puasa sunnah, selama belom melakukan hal – hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum.

  • Sahur
Baca Juga :  Letak Geografis Indonesia dalam Peta Dunia

Sebelum menunaikan ibadah puasa, umat muslim disarankan untuk melakukan sahur. Sahur adalah makanan dan minuman di waktu akhir malam sesuai dengan Namanya (sahur).selain itu juga dalam melakukan sahur terdapat keberkahan di dalamnya sehingga akan mendapatkan pahala. Namun, puasa tetap bisa dilakukan walaupun tidak melakukan sahur.

  • Menahan diri dari hal – hal yang bisa membatalkan puasa

Jangan makan dan minum saat melakukan ibadah puasa, baik sunnah maupun yang wajib. Karea arti dari puasa sendiri adalah menahan hawa nafsu, apalagi hawa nafsu tersebut sudah mendominasi. Selain menahan, dilatih juga untuk mengatur hawa nafsu Hal ini dilakukan setelah sahur sampai matahari terbenam.

  • Berbuka puasa

Seperti puasa pada umumnya, puasa Arafah juga meminta umat muslim yang menjalankan untuk berbuka diwaktu matahari terbenam. Karena dengan berbuka puasa akan mendapatkan kembali tenaga yang telah hilang saat beraktivitas selama berpuasa. Selain itu juga dengan berbuka puasa akan mendapatkan keberkahan. Disarankan untuk menyegerakan berbuka karena sunah hukumnya.

Bacaan Niat Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah jatuh setiap tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum melakukan Puasa Arafah. Puasa ini juga tidak dianjurkan untuk umat muslim yang sedang melakukan ibadah haji. Dan puasa ini memiliki hukum sunnah, tidak diwajibkan tapi mendapatkan pahala jika melakukannya. Terdapat juga dalil yang mengatakan :

” Puasa pada hari tarwiyah 8 Dzulhijjah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah 9 Dzulhijjah akan diampuni semua dosa –  dosa selama dua tahun.”

Selain itu juga sama seperti puasa yang lan, puasa Tarwiyah juga terdapat bacaan niatnya, yaitu

نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitu Sahauma Arafata Sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya : saya niat berpuasa sunnah tarwiyah karena Allah Ta’ala

Tata Cara Puasa Tarwiyah

Berikut ini tata dan cara dalam menjalan puasa tarwiyah :

  • Membaca Niat

Sebaiknya membaca niat puasa arafah dilakukan pada malam hari, bukan pagi hari sebelum terbitnya fajar. Namun apabila tidak sempat boleh membaca niatnya pada pagi hari mengingat ini adalah puasa sunnah, selama belum melakukan hal – hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum.

  • Melaksanakan Sahur

Sebelum menunaikan ibadah puasa, umat muslim disarankan untuk melakukan sahur. Sahur adalah makanan dan minuman di waktu akhir malam sesuai dengan Namanya (sahur).selain itu juga dalam melakukan sahur terdapat keberkahan di dalamnya sehingga akan mendapatkan pahala. Namun, puasa tetap bisa dilakukan walaupun tidak melakukan sahur.

  • Menahan Diri dari Hawa Nafsu

Jangan makan dan minum saat melakukan ibadah puasa, baik sunnah maupun yang wajib. Karea arti dari puasa sendiri adalah menahan hawa nafsu, apalagi hawa nafsu tersebut sudah mendominasi. Selain menahan, dilatih juga untuk mengatur hawa nafsu Hal ini dilakukan setelah sahur sampai matahari terbenam.

  • Menyegerakan Berbuka Puasa

Seperti puasa pada umumnya, puasa arafah juga meminta umat muslim yang menjalankan untuk berbuka diwaktu matahari terbenam. Karena dengan berbuka puasa akan mendapatkan kembali tenaga yang telah hilang saat beraktivitas selama berpuasa. Selain itu juga dengan berbuka puasa akan mendapatkan keberkahan. Disarankan untuk menyegerakan berbuka karena sunah hukumnya.

Perbedaan Puasa Arafah dengan Puasa Tarwiyah

Puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulijhjah disebut puasa Arafah. Puasa ini sangat disarankan bagi setiap kaum muslim yang tidak melakukan ibadah haji. Teknis dalam pelaksanaannya pun sama dengan cara berpuasa yang lainnya. Dalam riwayat Abu Qatadah Rahimahullah, Rasulullah SAW bersabda :

“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas”. (HR. Muslim).

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum melaksanakan puasa Arafah. Hal ini didasarkan juga pada hadist yang dapat mengapus dosa selama setahun jika melakukan puasa Tarwiyah. Dan hadis yang dimaksud tidak bersangkutan dengan dalil dan hukum yang ada. Selain itu, hari – hari pada bulan Dzulhijjah merupakan hari – hari yang istimewa. Karena disebutkan :

“Tidak ada perbuatan yang lebih disukai Allah pada hari baik sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah para sahabat bertanya : walaupun sedang jihad di jalan Allah, lalu Rasul menjawab : kecuali seorang laki – laki yang keluar dengan harta benda dan dirinya kemudian menghilang”

Puasa Arafah dan Tarwiyah ini juga sangat dianjurkan untuk merasakan nikmat yang sedang para umat muslim menjalani haji rasakan. Perlu diketahui juga untuk masalah waktu yang berbeda di tiap negeri, pusat penentuannya adalah pemerintah Arab Saudi dan juga negara yang terkait. Karena penetuan waktu Dzulhijjah sesuai dengan lokasi geografis suatu negara.

Baca Juga :  Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbaharui dan Manfaatnya

Tidak perlu pertanyakan akan puasa adalah jenis amalan yang utama, diberikan kepada umat muslim dari Allah SWT. Hadist Qudsi juga  menyebutkan : “Puasa ini untuk-ku, dan yang akan membalas adalah aku, sungguh dia telah meninggalkan makan, minum dan segala syahwatnya karena aku”. Itulah yang dikatakan oleh Allah SWT.

Dan juga diriwayatkan oleh abu Said Al-Khudri, Nabi Muhammad SWA berkata : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”.

Hukum Puasa Arafah

darunnajah.com

Puasa Arafah sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW di saat umat islam menjalankan haji, agar umat muslim lain juga bisa mendapat pahala dan amalan baik dari puasa ini. Dan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji cukup disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah. Puasa arafah adalah hadiah dari Allah bagi umat muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji (Imam Syafi’i).

Puasa Arafah juga memiliki keutamaan jika dikerjakan, yaitu dihapus segala dosanya selama setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Seperti yang sudah dijelaskan diawal bahwa puasa Arafah ini hukumnnya adalah sunnah. Dimana bagi yang menjalankan akan mendapat pahala dan kebaikan serta keutamaannya, dan jika tidak dikerjakan tidak akan berdosa.

Dan diharamkan bagi mereka yang sedang wukuf di padang Arafah, hal ini didasarkan oleh Abu Hurairah RA yang berkata :

“Rasulullah SAW melarang bagi siapa saja yang berpuasa Arafah pdahal dirinya sedang di Arafah”

Oleh Imam Al – Hakim pun hadist ini dibenarkan ,shahih karena tidak diriwayatkan oleh muslim dan syariat bukhari. Dan masih banyak imam – imam besar lainnya yang menshahihkan hadist ini. Dan puasa arafah ini tidak mengenal hari apapun selama itu adalah tanggal 9 Dzulhijah. Hadist yang melarang untuk puasa Arafah karena masalah hari  masehi adalah hadist yang lemah.

Hukum Puasa Tarwiyah

Sedangkan puasa Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, tepat satu hari sebelum puasa Arafah. Sama seperti puasa Arafah, puasa Tarwiyah juga sunnah hukumnya. Mendapatkan pahala dan keutamaannya jika dilaksanakan, dan tidak berdosa apabila tidak menjalankannya. Terdapat dalil yang mengatakan :

“Terdapat empat hal yang Rasulullah SAW tidak bisa tinggalkan, (1) dua rakaat sebelum fajar, (2) puasa 1 – 8  Dzulhijah, (3) puasa tiga hari dalam sebulan, (4) dan puasa Asyura”

Terdapat dua ulama yang sedang merundingkan 2 hadist yang mempermasalahkan tentang hadist ini. Dan memiliki kesimpulan bahwa masing – masing istri dari Rasulullah SAW menceritakan yang disaksikan oleh dia dan menerapkan perbedaannya. Selain itu juga tidak di permsalahkan jika dia berpuasa secara tidak teratur pada puasa sunnah selama memiliki salaf atau pendahulu.

Dalam puasa tarwiyah juga terdapat hadist yang mengatakan :

“Bagi siapa yang berpuasa pada hari tarwiyah akan dihapuskan dosa – dosanya satu tahun, dan akan dihapuskan dosa dua tahun jika berpuasa Arafah”

Beberapa ulama juga mengatakan bahwa tidak bisa dijadikan hujjah pada hadist puasa Tarwiyah tersebut. Namun, jika ada yang ingin berpuasa Tarwiyah dengan hadist :

“Tidak ada amalan yang lebih serius dibanding amal pada hari – hari akhir”

Maka, tidak masalah jika tidak berpuasa pada hari Tarwiyah karena itu merupakan bagian dari cara umat mulsim mendapatkan amalan baik dan juga keutamaan yang bisa saja dilakukan selama 10 hari penuh dari tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, dan bisa juga dilanjutkan dengan puasa Arafah sebagai pelengkap untuk mendapatkan pahala dan keutamaannya.

Keutamaan Puasa Arafah

Keutamaan Puasa Arafah
paseenews.com

Dalam memasukin bulan Dzulhijjah, banyak amalan – amalan yang bisa bisa dilakukan oleh umat muslim untuk mendapatkan pahala yang setara dengan yang melakukan ibadah haji. Diantaranya adalah amalan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah. Khususnya ketika berpuasa, Allah SWT telah memberikan keinstimewaan di dalamnya.seperti yang pernah Rasulullah SAW ucapkan :

“Allah akan menjauhkan dari neraka selama tujuh puluh tahun bagi siapa saja yang berpuasa satu hari di jalan Allah”

Dan dalam hadist qudsi juga Allah SWT berkata suka dengan umatnya yang selalu mendekatkan dirinya melalui ibadah – ibadah sunnahnya.seperti ucapannya yang berbunyi :

“Aku mencintai hambaku yang selalu mendekatkan dirinya kepadaku dengan ibadah – ibadah sunnahnya”

Dengan mengetahui keutamaan dan niat puasa arafah dan tata cara serta hukumnya, akan membuat umat islam lainnya berpikir berkali – kali untuk meninggalkan ibadah sunnah ini, apalagi jika masih diberi kesempatan. Jika dengan melakukan ibadah sunnah seperti puasa Arafah dan puasa Tarwiyah bisa menghapuskan dosa selama bertahun – tahun lamanya, sudah pasti bisa menghapus dosa – dosa kecil lainnya.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.