Tata Cara I’tikaf di Masjid Beserta Keutamaan-Keutamaannya

Tata Cara I’tikaf – Pada setiap 10 hari di akhir bulan Ramadhan, saya sering melakukan i’tikaf dari masjid ke masjid bersama seluruh anggota keluarga saya. I’tikaf paling sering kami lakukan bersama-sama ketika waktunya bertepatan dengan malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Hal tersebut kami lakukan dalam rangka untuk mengejar keutamaan malam Lailatul Qadar yang setara dengan ibadah selama 1000 tahun.

langgananhadits.wordpress.com

Dulu ketika awal-awal mulai melakukan i’tikaf, saya tidak mengetahui bahwa ternyata i’tikaf bisa kita lakukan kapan saja selain di bulan Ramadhan. Setiap hari saat kita masuk ke masjid dalam rangka menunaikan sholat fardhu, itu juga dapat dikatakan sebagai ibadah i’tikaf jika kita meniatkan demikian.

Pada artikel ini saya akan berbagi mengenai tata cara i’tikaf di masjid beserta keutamaan-keutamaannya, juga akan saya bagikan pengalaman saya melakukan i’tikaf di Masjid Al-Falah Surabaya dan Masjid Agung Al-Akbar Surabaya. Kedua masjid ini pernah keluarga kami kunjungi ketika ingin melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan.

Memang, masih banyak masjid lainnya yang pernah saya kunjungi bersama keluarga di sekitar Surabaya, tetapi kedua masjid inilah yang menurut saya paling enak dan nyaman untuk dijadikan tempat melakukan i’tikaf saat bulan Ramadhan.

Pengertian I’tikaf

jakpost.net

Pengertian i’tikaf secara bahasa berarti berdiam diri dan menetap di dalam sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti berdiam diri atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut ulama Hanafi atau Al-Hanafiyah, i’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah dan menurut pendapat ulama Syafi’i atau Syafi’iyah, i’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu dengan niat karena Allah Ta’ala.

Umat muslim pada umumnya sering melakukan i’tikaf di 10 hari terkhir bulan Ramadhan dalam rangka mendapatkan keutmaan malam Lailatul Qadar. Oleh karena itu, berikut saya akan jelaskan mengenai tata cara i’tikaf di masjid dengan baik dan benar yang sesuai dengan sunnah dan syariat islam.

Dasar Syariat Disunnahkannya I’tikaf di Masjid

aquila-style.com

Ada beberapa hadist dan ayat Al Qura’an yang menunjukkan dasar disyariatkannya melakukan ibadah i’tikaf. Para ulama juga bersepakat bahwa i’tikaf itu merupakan ibadah sunnah dan menjadi wajib jika seseorang telah memiliki nadzar untuk melaksanakan i’tikaf.

Pertama, dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 125, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”

Yang kedua, dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 187:

“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beri’tikaf dalam masjid.”

Pada dua ayat suci Al Qur’an di atas terdapat isyarat bahwa i’tikaf harus dilakukan di dalam masjid dan larangan untuk mencampuri istri ketika sedang melakukan i’tikaf.

Ketiga, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. yang artinya:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian istri-istri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari no. 2044)

Ke-empat, hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. yang artinya:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Pada dua hadist diatas ditunjukkan keutamaan melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam rangka meraih pahala malam Lailatul Qadar.

Tata Cara I’tikaf di Masjid

i.onthe.io

ketika melakukan sesuatu amalan ibadah haruslah dilandasi sebuah ilmu, amal tanpa ilmu akan menjadikan ibadah yang kita lakukan menjai sia-sia. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana tata cara i’tikaf di masjid yang baik dan benar menurut aturan-aturan di dalam agama Islam.

Berikut tata cara i’tikaf di masjid yang saya akan jelaskan menjadi beberapa poin di bawah ini. Semoga bisa bermanfaat dan menjadikan amal yang kita lakukan tidak sia-sia.

1. Dilakukan di Masjid

Tata cara i’tikaf yang pertama ialah mengenai tempat yang digunakan sebagai tempat i’tikaf. I’tikaf harus dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah ta’ala pada dua ayat diatas yang mengisyratakan bahwa i’tikaf itu dilakukan di rumah Allah atau masjid.

Lantas masjid seperti apakah yang dimaksud. Menurut Imam Malik, i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja yang digunakan sebagai tempat sholat 5 waktu. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, i’tikaf harus dilakukan di masjid jami atau masjid yang digunakan untuk sholat jum’at.

Dengan melakukan i’tikaf di masjid yang melaksanakan sholat 5 waktu, maka jama’ah laki-laki tidak harus keluar masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah yang diwajibkan baginya. Selanjutnya apabila masjid tempat i’tikaf juga melakukan sholat jum’at, maka akan lebih baik lagi karena jama’ah bisa sekalian melakukan sholat jum’at di masjid tersebut.

2. Dianjurkan Memperbanyak Ibadah dengan Berdzikir, Sholat, Mengaji dan Lain-lain

Ketika kita melakukan i’tikaf, dianjurkan untuk mengisi waktu dengan memperbanyak amalan-amalan ibadah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Janganlah kita mengisi waktu i’tikaf kita dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Banyak amalan-amalan yang bisa kita lakukan ketika i’tikaf, berikut contoh hal-hal yang sebaiknya kita lakukan ketika melaksanakan i’tikaf.

  1. Melakukan sholat tahiyyatul masjid, sholat sunnah, sholat lail, dan sholat tasbih
  2. Membaca, menghafal, murojaah Al-Qur’an
  3. Memperbanyak dzikir dan doa
  4. Membaca buku-buku agama
  5. Mengkaji Al Qur’an dan Al Hadist

Dengan melakukan kegiatan-kegiatan di atas, insya Allah akan menjadikan diri kita semakin dekat dengan sang Maha Pencipta, Allah SWT.

3. Tidak Ada Batasan Waktu

Tata cara i’tikaf di masjid yang berikutnya adalah mengenai batas minimal waktu pelaksanaan ibadah i’tikaf. Apakah orang yang hanya sekedar lewat didalam masjid bisa dikatakan i’tikaf atau harus dilakukan dalam waktu seharian penuh?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai batas minimal melakukan i’tikaf. Ada yang mensyaratkan i’tikaf minimal harus dilakukan minimal sehari atau dua hari. Ada yang mensyaratkan boleh dilakukan dalam waktu kurang dari satu hari.

Menurut pendapat mayoritas ulama disepakati bahwa tidak ada batasan waktu i’tikaf, yang artinya boleh dilakukan sesaat di malam hari atau siang hari. Jadi, boleh dilakukan walaupun hanya sekedar duduk sebentar saja di dalam masjid dan dengan niat ingin melakukan i’tikaf.

4. Wanita Diperbolehkan Melakukan I’tikaf

slate.com

Apakah wanita juga boleh melakukan i’tikaf? Apakah hal itu melanggar tata cara i’tikaf di masjid? Mungkin sebagian kita masih bertanya-tanya tentang hal itu.

Dari hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a yang telah saya tulis pada sub bab mengenai dalil disunnahkannya i’tikaf di masjid. Dikatakan bahwa istri-istri nabi melakukan i’tikaf setelah kepergian Rasulullah SAW. Hal ini mengisyaratkan bahwa wanita boleh melakukan i’tikaf di masjid seperti yang dicontohkan oleh istri-istri beliau.

Adapun tata cara i’tikaf di masjid bagi perempuan adalah sama seperti tata cara i’tikaf di masjid bagi laki-laki, hanya saja tidak boleh melakukan i’tikaf ketika sedang haid atau nifas. Hal ini dikarenakan ada larangan bagi wanita untuk berlama-lama di masjid ketika sedang haid atau nifas.

5. Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf

Adapun hal-hal yang dapat membatalkan ibadah i’tikaf adalah sebagai berikut. Perhatikan baik-baik, karena tentu kita tidak ingin ibadah yang kita lakukan menjadi sia-sia.

  1. Keluar dari masjid tanpa kepentingan yang mendesak dan tanpa alasan yang syar’i. Seperti nongkrong di warung di dekat masjid dan lain-lain.
  2. Bercampur dengan istri, yaitu melakukan hubungan suami istri. Adapun bercumbu menurut beberapa ulama bisa tidak membatalkan jika tanpa disertai nafsu. Jika hanya sekedar bertemu dan berbicara tidak membatalkan i’tikaf. Rasulullah pernah disisiri rambutnya oleh Aisyah ketika sedang i’tikaf.
  3. Seseorang diperbolehkan membatalkan i’tikaf jika ada keperluan yang mendesak. Jika tidak ada kebutuhan yang mendesak sebaiknya meneruskan ibadahnya hingga tuntas.

Pengalaman I’tikaf di Masjid Al-Falah Surabaya

twitter.com

Masji Al Falah terletak di Jalan Raya Darmo No. 137 A, Darmo, Wonokromo, kota Surabaya. Masjid dikelola oleh yayasan masjid Al-Falah. Selain masjid juga ada sekolah dasar yang berada tepat disamping masjid. Di dalam masjid juga ada poliklinik yang dibuat untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Di dalamnya juga ada ruang kelas yang digunakan untuk kajian-kajian.

Masjid selalu penuh dengan jamaah yang ingin melakukan i’tikaf ketika memasuki bulan Ramadhan terutama di 10 hari terakhir Ramadhan. Masjid ini menyediakan fasilitas yang nyaman seperti ruang sholat utama yang beralaskan karpet tebal dan empuk. Serta dilengkapi juga dengan AC dan kipas angin. Semua ini tersedia baik diruang sholat laki-laki dan perempuan.

Saat Ramadhan disediakan buka puasa dan sahur untuk para jamaah. Malam harinya sekitar jam 24.00 dilaksanakan sholat qiyamul lail dengan imam yang berasal dari timur tengah yang selalu didatangkan setiap bulan Ramadhan.

Pengalaman I’tikaf di Masjid Agung Al-Akbar Surabaya

pantaimalang.com

Masjid Al Akbar merupakan masjid terbesar yang ada di kota Surabaya. Berlokasi di Jalan Masjid Al Akbar Timur, Pagesangan, Jambangan, Surabaya. Dengan bentuk bangunan yang megah dan luas, menjadikan masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ada di Surabaya.

Setiap Ramadhan area luar masjid selalu dipenuhi dengan bazar-bazar yang menjual pakaian muslim dan makanan. Sehingga menjadikan masjid ini ramai, terutama ketika saat berbuka puasa.

Saya bersama keluarga pernah beberapa kali i’tikaf di sini, tapi karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah kami, kami menjadi lebih sering i’tikaf di Masjid Al Falah.

Sama seperti masjid Al Falah, masjid ini juga ramai oleh orang yang melakukan i’tikaf ketika bulan Ramadhan. Sebagai gambaran, saya dan keluarga tidak pernah mendaptakan makanan sahur yang disediakan oleh pengurus masjid, karena banyaknya jamaah yang melakukan i’tikaf.

Sehingga mengharuskan saya dan keluarga saya membawa bekal dari rumah. Saran dari saya, ketika i’tikaf di masjid ini sebaiknya lebih berhati-hati lagi dalam menajaga barang bawaan. Juga jangan lupa membawa obat nyamuk oles, karena tempatnya terbuka dan banyak nyamuk.

Sekian, artikel saya tentang Tata Cara I’tikaf di Masjid, semoga bisa memberikan manfaat dan menambah wawasan Anda tentang tata cara melakukan i’tikaf. Bila ada salah-salah kata saya mohon maaf, karena saya adalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan khilaf.

Tinggalkan komentar